Perempuan dengan Perpustakaan di Kepalanya – Jurnal Paruh Baya
Kalau ada yang bertanya kepadaku tentang wanita seperti apa yang kuinginkan, mungkin sekarang jawabanku sudah sedikit berbeda dari beberapa tahun yang lalu ketika masih bocil
Dulu mungkin aku akan menyebut hal-hal yang mudah dilihat. Cantik, menyenangkan, punya selera humor yang bagus, dan hal-hal semacam itu. Tetapi semakin bertambah umur, aku mulai merasa bahwa yang sebenarnya kucari bukan seseorang yang terlihat sempurna, melainkan seseorang yang membuat kehidupan terasa seperti tempat yang ingin kutinggali lebih lama.
Tak ada yang lebih indah daripada melihat seorang wanita dengan perpustakaan di kepalanya.
Bukan hanya seseorang yang banyak membaca buku, tetapi seseorang yang menyimpan begitu banyak dunia di dalam dirinya. Ada cerita yang pernah ia baca, percakapan yang pernah ia dengar, tempat-tempat yang pernah ia datangi, film yang pernah membuatnya menangis, lagu yang pernah menemaninya melewati hari buruk, juga pertanyaan-pertanyaan yang mungkin sampai sekarang belum ia temukan jawabannya. Aku suka membayangkan seorang perempuan yang ketika diajak berbicara, percakapannya tidak pernah benar-benar habis.
Satu hal bisa membawanya ke hal lain. Dari sebuah film bisa sampai ke sebuah buku. Dari sebuah buku bisa sampai ke masa kecilnya. Dari masa kecilnya bisa sampai pada sesuatu yang sedang ia pikirkan tentang kehidupan. Lalu tiba-tiba malam sudah terlalu larut dan aku baru sadar bahwa sejak tadi aku hanya ingin terus mendengarkannya bercerita.
Mungkin karena bagiku kecantikan punya banyak bentuk. Dan salah satu bentuk yang paling kusukai adalah ketika seseorang membuatmu merasa bahwa semakin lama mengenalnya, semakin banyak ruang yang belum kaujelajahi.
Aku ingin seorang wanita yang mempunyai pikirannya sendiri. Yang terkadang tidak selalu setuju denganku. Yang bisa mengatakan bahwa aku salah tanpa membuatku merasa harus pergi. Yang mempunyai sesuatu untuk diperjuangkan, sesuatu untuk dicintai, dan sesuatu yang membuatnya tetap menjadi dirinya sendiri bahkan ketika dunia sedang sibuk menyuruh semua orang menjadi sama.
Aku tak ingin hanya melihat bagaimana wajahnya ketika ia tersenyum. Aku ingin tahu apa yang membuatnya berpikir, apa yang membuatnya takut, apa yang membuatnya marah, buku apa yang ia baca, lagu apa yang ia putar, dan hal-hal kecil apa yang membuatnya bahagia.
Tetapi di balik semua itu, ada sesuatu yang mungkin lebih penting bagiku. Aku ingin seorang wanita yang sholehah.
Bukan dalam pengertian bahwa ia harus menjadi manusia yang selalu benar, tidak pernah marah, tidak pernah sedih, atau hidup tanpa kekurangan. Aku tidak mencari seseorang yang sempurna, karena aku sendiri terlalu jauh dari kata itu. Aku hanya ingin seseorang yang ketika hidup sedang membawanya ke banyak arah, ia masih tahu ke mana harus kembali.
Aku ingin seseorang yang punya hubungan baik dengan Tuhannya. Yang mungkin tidak selalu bisa menjelaskan banyak hal tentang hidup, tetapi tahu kepada siapa ia harus mengadu ketika semuanya terasa terlalu berat. Seseorang yang berusaha menjaga hal-hal kecil dalam hidupnya, bukan karena ingin terlihat baik di hadapan orang lain, tetapi karena ia memang ingin menjadi baik.
Aku ingin seorang perempuan yang membuatku ingin memperbaiki diriku sendiri. Bukan karena ia menuntutku menjadi lelaki yang sempurna, melainkan karena melihat bagaimana ia menjalani hidup membuatku merasa bahwa aku juga seharusnya bisa menjadi manusia yang lebih baik.
Mungkin ia akan mengingatkanku untuk berhenti ketika aku mulai terlalu jauh mengejar sesuatu. Mungkin ia akan mengingatkanku untuk bersyukur ketika aku terlalu sibuk mengeluhkan hidup. Mungkin pada hari-hari ketika kami sama-sama lelah, kami tidak perlu menyelesaikan semua persoalan malam itu juga. Cukup duduk bersama, saling menemani, lalu mengingat bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari semua masalah yang sedang kami hadapi.
Aku ingin seseorang yang lembut, tetapi bukan berarti lemah. Yang punya pendirian, tahu apa yang ia percaya, dan tidak mudah kehilangan dirinya sendiri hanya karena dunia sedang berkecamuk. Aku ingin seseorang yang bisa menjadi teman bicara, teman bertumbuh, sekaligus teman untuk saling mengingatkan ketika salah satu dari kami mulai kehilangan arah.
Aku juga ingin dia memiliki kehidupannya sendiri. Aku tidak ingin menjadi seluruh dunianya, karena menurutku manusia seharusnya tetap memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Aku ingin melihatnya mempunyai sesuatu yang ia cintai, pekerjaan yang ia sukai, buku-bukunya, teman-temannya, hobinya, atau hal-hal kecil yang membuat wajahnya berubah ketika sedang bercerita. Aku ingin mencintainya bukan hanya sebagai seseorang yang menjadi pasanganku, tetapi sebagai seorang manusia utuh dengan dunia yang sudah ia bangun jauh sebelum aku datang.
Dan mungkin aku juga ingin seseorang yang mau hidup sedikit lebih lambat bersamaku.
Aku membayangkan kami tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Ada meja makan kayu, pintu kaca besar yang menghadap halaman belakang, beberapa buku di sudut-sudut rumah, tanaman yang mungkin sesekali dipanen untuk kebutuhan memasak, dan suatu hari mungkin ada sepetak sawah yang tidak terlalu jauh dari sana.
Pagi-pagi aku membuat kopi, membuka laptop, lalu menulis cerita yang sedang kukerjakan. Mungkin dia sedang membaca atau mengurus sesuatu di rumah. Sesekali kami pergi melihat sawah, berjalan di antara tanaman, duduk di pinggirnya, atau hanya melihat para pekerja memanen. Kadang-kadang aku berkebun, menanam sesuatu yang entah nanti akan tumbuh atau mati. Rasanya menyenangkan membayangkan hidup yang berjalan sedikit lebih lambat, di mana kami tidak harus selalu mengejar sesuatu.
Aku ingin pulang dan menemukan seseorang yang ingin kuceritakan tentang hariku. Bukan karena setiap hari harus romantis. Justru sebaliknya. Aku ingin hubungan yang terasa biasa dalam cara yang menyenangkan. Pergi ke pasar pada pagi hari, membeli sesuatu yang sebenarnya tidak ada di daftar belanja, kemudian pulang membawa terlalu banyak barang. Sesekali pergi ke kota lain hanya karena ingin makan di tempat yang belum pernah kami datangi. Pada malam-malam tertentu, mungkin kami hanya duduk di ruang makan sambil membicarakan pekerjaan, tetangga, buku, berita yang tidak penting, atau vidio lucu yang kami lihat di media sosial.
Aku ingin menjadi lelaki yang bisa ia percaya ketika hidup sedang tidak baik-baik saja. Seseorang yang tidak hanya hadir ketika semuanya menyenangkan. Kalau suatu hari rambutnya mulai memutih, tubuh kami tidak lagi sekuat sekarang, atau hidup ternyata tidak berjalan sesuai rencana, aku ingin tetap menjadi orang yang duduk di sebelahnya. Mungkin itu yang sebenarnya kuinginkan dari cinta.
Tapi ada satu hal yang menurutku jauh lebih penting dari semua bayangan itu. Aku ingin cinta yang kami bangun di dunia tidak berhenti hanya karena kehidupan di dunia selesai.
Aku ingin kami sama-sama belajar menjadi baik, saling mengingatkan dalam kebaikan, saling menjaga, dan saling membawa lebih dekat kepada Allah. Sebab pada akhirnya, aku tidak ingin tujuan hubungan ini hanya sebatas sehidup semati. Aku ingin sehidup, sesyurga.
Aku ingin rumah yang kami bangun di dunia menjadi tempat kami pulang, tetapi aku juga ingin hubungan yang kami bangun menjadi salah satu jalan yang membawa kami kepada rumah yang kekal abadi nanti. Aku ingin kalau suatu hari kami sampai di sana, di kehidupan yang abadi (akhirat) kami masih bisa saling menemukan dan saling mencintai dengan cinta kasih yang sangat besar
Aku hanya tahu bahwa bagiku, rasanya akan sangat indah kalau setelah melewati semua hal di dunia ini, setelah menua, setelah rambut memutih, setelah tubuh tidak lagi sekuat sekarang, perjalanan kami ternyata belum selesai.
Masih ada kehidupan setelah ini. Dan semoga, kalau Allah mengizinkan, perempuan yang kelak akan menjadi jodohku di dunia adalah perempuan yang juga bisa berjalan bersamaku menuju syurga.
Mungkin itu sebabnya aku tidak hanya ingin mencari seseorang untuk dicintai. Aku ingin mencari seseorang yang bisa sama-sama belajar dan mendekatkan diri kepada-Nya. Seseorang yang ketika kami saling mencintai, cinta itu tidak membuat kami lupa kepada-Nya, tetapi justru membawa kami lebih dekat.
Tidak adil rasanya jikalau aku menginginkan seorang wanita dengan perpustakaan di kepalanya, hati yang tenang, hubungan yang baik dengan TuhanNya, dan kehidupan yang ingin dibangun bersama, sementara aku sendiri belum selesai belajar menjadi lelaki yang baik.
Jadi mungkin untuk sekarang, selain berharap suatu hari nanti bertemu dengannya, aku juga harus mulai mempersiapkan diriku sendiri. Supaya ketika waktunya datang, aku tidak hanya sibuk memikirkan apakah dia adalah wanita yang selama ini kucari.
Aku juga harus bertanya kepada diriku sendiri: apakah aku sudah menjadi lelaki yang pantas untuk berjalan bersamanya? Bukan hanya sampai tua. Tapi sampai syurga.
Terimakasih sudah membaca, dan semoga hal hal baik selalu menyertai kita
#barokahalways


