Jakarta dan Segala Jenis Manusianya – Jurnal Paruh Baya

Sabtu, 11 Oktober 2025,

Hari sabtu ini aku libur. Tidak ada rencana apa-apa untuk hari ini, mungkin satu-satunya aktivitas wajibku di hari libur adalah mencuci baju dan membereskan kamar, lalu entah pergi mencari makan, pergi bareng teman atau kembali tertidur setelah merasa hidup sudah cukup lelah setelah seminggu bekerja. Pagi ini aku melakukan hal yang kurang lebih sama, sampai tiba-tiba ketika sedang membereskan beberapa barang di kamar, aku berpikir bahwa ternyata aku sudah menginjak tahun keempat di jakarta.

Entah bagaimana waktu bisa berjalan secepat itu. Rasanya baru kemarin aku datang dengan banyak sekali bayangan tentang kota ini. Aku membayangkan pekerjaan, orang-orang yang akan kutemui, kehidupan baru yang mungkin akan kumiliki, dan segala sesuatu yang biasanya dibayangkan seseorang ketika memutuskan meninggalkan tempat asalnya. Sekarang setelah mungkin kurang lebih 4 tahun kulewati, aku justru merasa hal terbesar yang kudapatkan dari jakarta bukan tentang pekerjaan, uang, atau bahkan karier. Aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih sulit dijelaskan, yaitu cara melihat manusia.

Aku tidak pernah membayangkan kehidupan akan berputar begitu cepat ini. Selama merantau di jakarta, aku menemukan banyak hal yang sebelumnya mungkin hanya pernah kulihat dari jauh. Kota ini seperti sebuah tempat di mana segala macam kehidupan dikumpulkan dalam satu ruang yang terlalu sempit. Orang-orang datang dari berbagai daerah, membawa bahasa, kebiasaan, cara berpikir, kepercayaan, ambisi, dan cerita hidupnya masing-masing. Ada begitu banyak jenis manusia di sini, dari a sampai z pun ada, dan semakin lama tinggal, aku justru semakin tertarik bukan pada gedung-gedungnya tingginya yang sangat kontras dengan ketimpangan sosial disekitarnya itu, melainkan pada orang-orang yang tinggal didalamnya

Aku suka memperhatikan manusia. Entah kenapa aku senang melakukan people watching ketika sedang berada di transportasi umum atau duduk di tempat yang ramai. Kadang aku hanya melamun sambil melihat orang-orang dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sibuk bermain ponsel, ada yang tertidur dengan kepala bersandar ke kaca, ada yang terlihat cemas sambil berkali-kali melihat layar ponselnya, ada yang tersenyum sendiri karena membaca sesuatu, ada yang menelepon seseorang, ada yang tertawa terbahak-bahak ketika melihat vidio lucu di hpnya, adapula orang-orang dengan raut wajah yang sulit aku jelaskan. Kadang aku bertanya-tanya, sebenarnya mereka sedang memikirkan apa?

Ada begitu banyak cerita di kota ini. Mungkin setiap orang yang berjalan melewatiku di trotoar punya cerita yang lebih panjang daripada yang bisaku bayangkan, orang yang duduk di depanku mungkin sedang memikirkan pekerjaan yang menumpuk. Orang yang berdiri di sampingku mungkin sedang menunggu sebuah pesan yang sejak tadi tak kunjung datang. Seseorang yang terlihat sangat bahagia mungkin baru saja mendapatkan kabar yang baik. Atau mungkin semua dugaanku salah dan mereka sebenarnya hanya sedang menjalani perjalanan pulang seperti biasa. Aku tidak akan pernah tahu, dan mungkin justru karena itulah aku senang melihat mereka.

Ketika sedang berada di transportasi umum, aku suka melihat wajah-wajah yang berganti di setiap stasiun. Seseorang naik, seseorang turun. Ada yang datang membawa satu masalah, ada yang mungkin pulang membawa masalah lain. Kereta berhenti sebentar, pintunya terbuka, lalu manusia-manusia baru masuk dengan cerita yang tidak akan pernah kukenal. Rasanya seperti membaca buku yang tidak pernah bisa kita selesaikan. Kita hanya sempat melihat satu halaman, lalu orang itu turun, ceritanya selesai, kemudian muncul orang lain.

Kita hidup berdampingan dengan begitu banyak orang, tetapi hampir tidak pernah benar-benar tahu kehidupan mereka. Kita hanya tahu sebagian kecil. Kita hanya tahu ketika seseorang sedang berbicara, bagaimana ia berpakaian, bagaimana ia bekerja, bagaimana ia memperlakukan kita, tetapi kita tidak tahu bagaimana ia ketika sedang sendirian. Kita tidak tahu apa yang membuatnya takut, apa yang sedang ia perjuangkan, apa yang baru saja ia alami, atau hal apa yang diam-diam ia idam-idamkan

Semakin sering memperhatikan orang, aku semakin sadar bahwa manusia jauh lebih rumit daripada apa yang terlihat.

Pernah aku bertemu dengan seseorang yang mungkin oleh sebagian orang dianggap cukup unik. Cara berpikirnya berbeda, cara bicaranya juga tidak seperti orang-orang yang biasa kutemui. Mungkin ada orang yang melihatnya sebagai seseorang yang terlalu aneh, terlalu berbeda, bahkan mungkin ada yang menyarankan agar ia berbicara dengan psikolog. Tetapi aku justru melihatnya dari sudut yang berbeda. Bagiku, ia adalah salah satu orang yang cukup banyak memberiku pelajaran.

Mungkin aku tidak selalu sepakat dengan cara berpikirnya, tetapi dari dirinya aku belajar bahwa ternyata satu hal bisa dilihat dari banyak sekali sudut. Sesuatu yang menurutku sederhana bisa menjadi sangat rumit bagi orang lain karena mereka membawa pengalaman hidup yang berbeda. Sesuatu yang menurutku masuk akal bisa saja tidak masuk akal bagi orang lain karena mereka tumbuh dalam lingkungan yang berbeda. Dari sana aku mulai belajar bahwa memahami seseorang tidak selalu berarti harus setuju dengannya.

Kadang kita hanya perlu mencoba memahami kenapa seseorang bisa menjadi seperti itu. Mungkin seseorang terlihat aneh karena kita hanya mengenalnya sedikit. Mungkin seseorang terlihat sulit karena kita tidak pernah mencoba memahami caranya melihat dunia. Dan mungkin seseorang yang menurut kita salah, sebenarnya sedang melihat sesuatu dari tempat yang tidak pernah kita ketahui.

Bukan berarti semua perilaku harus dibenarkan. Bukan juga berarti kita harus memaklumi semuanya. Aku hanya mulai merasa bahwa menilai manusia dengan cepat sering kali membuat kita kehilangan cerita yang sebenarnya jauh lebih menarik.

Kalau aku tak pernah merantau ke jakarta, mungkin aku tidak akan mendapatkan begitu banyak pengalaman semacam ini. Tentu aku akan tetap bertemu manusia, tetapi mungkin aku tidak akan melihat keberagaman perspektif sebanyak di kota ini. Di sini aku dipaksa bertemu orang-orang yang cara hidupnya berbeda jauh dariku, dan mau tidak mau aku harus belajar bahwa ternyata hidup tidak hanya punya satu cara untuk dijalani.

Ada orang yang menghabiskan hidupnya untuk mengejar karier, sementara orang lain bekerja hanya agar keluarganya di kampung bisa makan dengan tenang. Ada orang yang menganggap uang adalah tujuan, ada juga yang hanya ingin bertahan sampai akhir bulan. Ada orang yang ingin tinggal lebih lama disini mungkin sampai tua, ada juga yang sejak datang sudah bermimpi suatu hari nanti bisa kembali pulang ke desa. Semua orang membawa definisinya masing-masing tentang kehidupan yang lebih baik.

Dan aku mulai menyukai kenyataan itu. Karena kalau hanya hidup di lingkungan yang sama, mungkin kita akan merasa bahwa cara hidup kitalah satu-satunya cara yang masuk akal.

Di satu sisi, aku merasa beruntung berada di sini. Begitu banyak orang hebat yang bisa ditemui, banyak orang baik disekelilingku, dan begitu banyak kesempatan yang mungkin tidak datang kalau aku tetap tinggal di tempat yang sama. Jakarta seperti sebuah ruangan besar yang pintunya selalu terbuka. Kita bisa bertemu siapa saja, belajar apa saja, mencoba banyak hal, bahkan mungkin menemukan versi diri kita yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.

Kalau kita bisa mengambil peran kita dengan baik di tempat seperti ini, kita bisa berkembang sangat cepat. Kita dipaksa belajar berbicara dengan orang yang berbeda, bekerja dengan orang yang tidak sepemikiran, membaca situasi, memahami kapan harus maju, kapan harus diam, kapan harus berkata iya, dan kapan harus mengatakan tidak. Kita juga belajar bahwa tidak semua kesempatan datang kepada setiap orang.

Tetapi di sisi lain, jakarta mungkin juga tidak selalu ramah. Kalau kita tidak pandai menyesuaikan diri, kita bisa tersingkir begitu saja. Makan atau dimakan, mungkin itu kalimat yang cukup tepat untuk menggambarkan bagaimana rasanya hidup di kota ini.

Bukan dalam arti kita harus menjadi jahat untuk bertahan hidup. Bukan juga berarti semua orang di jakarta sedang berusaha menjatuhkan orang lain. Tetapi di sini aku merasa kita memang dituntut untuk punya kesadaran yang lebih besar terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar kita.

Kalau terlalu naif, kita bisa dimanfaatkan. Kalau terlalu percaya, kita bisa kecewa. Kalau terlalu lambat mengambil keputusan, kesempatan mungkin sudah lebih dulu diambil orang lain.

Jakarta keras dengan caranya sendiri. Dan mungkin yang paling melelahkan dari semua itu bukan pekerjaannya, melainkan perasaan bahwa kita harus selalu siap. Siap bersaing, siap berubah, siap mengejar, siap kehilangan, siap memulai lagi. Kadang aku merasa kota ini tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan ketika malam sudah larut, selalu ada suara kendaraan, orang yang baru pulang bekerja, orang yang baru saja memulai pekerjaannya, atau seseorang yang masih duduk sendirian di sebuah tempat karena belum ingin pulang. Semua orang seperti punya urusan masing-masing, semua orang sedang menuju sesuatu, dan aku juga begitu.

Ketika pertama kali datang ke kota ini, mungkin aku punya bayangan sendiri tentang apa yang ingin kudapatkan. Aku pikir kalau bekerja keras, semuanya akan perlahan menjadi lebih baik. Tetapi setelah beberapa tahun menjalaninya, aku mulai sadar bahwa kerja keras saja tidak selalu cukup. Ada timing, ada kesempatan, ada keberuntungan, ada orang-orang yang kita temui, dan ada begitu banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Kadang seseorang bekerja sangat keras tetapi tetap tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Kadang seseorang datang ketika sebuah kesempatan sedang terbuka, lalu hidupnya berubah hanya karena ia berada di tempat yang tepat. Melihat semua itu membuatku semakin percaya bahwa hidup bukan sesuatu yang bisa dihitung dengan rumus yang sederhana. Mungkin itu sebabnya aku belajar untuk tidak terlalu cepat menilai seseorang, karena kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang mereka bawa di dalam hidupnya.

Orang yang terlihat sukses mungkin sedang berusaha keras mempertahankan semuanya. Orang yang terlihat biasa saja mungkin sedang berjuang membayar sesuatu yang tidak pernah kita ketahui. Orang yang setiap hari tertawa mungkin menyimpan banyak kesedihan ketika ia sedang sendiri. Dan mungkin itu juga yang membuat kebiasaanku memperhatikan orang tidak pernah benar-benar hilang.

Mungkin pada akhirnya, itulah yang paling banyak diberikan jakarta kepadaku. Bukan hanya pengalaman bekerja, tetapi kumpulan cerita tentang manusia. Tentang bagaimana orang hidup, bagaimana mereka bertahan, bagaimana mereka mencintai, bagaimana mereka berkembang, bagaimana mereka berhasil, bagaimana mereka berubah, dan bagaimana mereka mencoba menjadi seseorang di tengah kota yang terus bergerak.

Dan semakin lama aku tinggal, semakin aku menyadari bahwa kota ini sebenarnya bukan hanya tempat untuk mencari uang atau pekerjaan. Ia juga tempat untuk belajar tentang memahami manusia, tentang ambisi, kesepian, pertemanan, kebaikan, kasih sayang dan tentang bagaimana seseorang bisa berubah ketika berada di lingkungan yang berbeda.

Kota ini mungkin bukan tempat yang ingin kutinggali selamanya. Aku masih membayangkan suatu hari nanti tinggal di desa yang tenang, punya rumah yang nyaman, kebun, dan mungkin sepetak sawah, lalu hidup dengan ritme yang lebih lambat. Tetapi sebelum sampai ke sana, mungkin memang ada bagian dari hidup yang harus kujalani di sini. Ada hal-hal yang harus kupelajari, ada manusia-manusia yang harus kutemui, ada kesalahan-kesalahan yang mungkin memang harus kubuat, dan ada versi diriku yang mungkin hanya bisa lahir dari kerasnya kota ini.

Mungkin jika suatu hari nanti ketika aku sudah tidak lagi tinggal di kota ini, aku akan merindukan beberapa hal. Bukan sekadar pengalaman kerja, apalagi kemacetannya, Mungkin aku justru akan merindukan manusia-manusianya. Orang-orang yang pernah kutemui. Teman-teman yang pernah menemaniku. Percakapan panjang di kedai kopi. Orang asing yang pernah membantuku di jalan. Orang-orang baik yang pernah aku temui. Orang-orang yang pernah membuatku percaya bahwa ternyata masih banyak kebaikan di dunia ini.

Terimakasih sudah membaca, dan semoga hal-hal baik selalu menyertai kita
#barokahalways