Aku dan Umur 27 Tahun – Jurnal Paruh Baya
Hari ini aku bangun pagi seperti biasa. Mandi, sikat gigi, lalu turun membeli susu di bawah kos untuk campuran kopi nescafe yang kubeli kemarin di indomaret. Tidak ada yang istimewa dari pagi ini. Jakarta masih seperti jakarta yang biasanya, kendaraan sudah ramai, orang-orang berjalan dengan urusannya masing-masing, dan aku masih menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang sedang berusaha menjalani hidupnya.
Hanya saja, entah bagaimana caranya, pagi ini aku sudah berumur 27 tahun.
Rasanya agak aneh menuliskan kalimat itu. Dua puluh tujuh tahun. Angka yang beberapa tahun lalu terasa begitu jauh, seperti umur milik orang lain. Dulu aku pikir ketika sampai di usia ini, aku mungkin sudah menjadi seseorang yang kaya raya haha. Aku tidak tahu persis seseorang seperti apa, tetapi setidaknya seseorang yang tau apa yang sedang dilakukan dalam hidupnya. Seseorang yang punya arah, punya tempat untuk pulang, punya pekerjaan yang bisa diceritakan dengan bangga, mungkin juga punya sedikit uang yang membuatnya tidak terlalu cemas ketika tanggal tua datang.
Tapi nyatanya, pagi ini tetap sama, aku harus pergi berangkat bekerja dengan rutinitas yang sama, membuat kopi dan meneguknya sesekali, kadang juga jika masih terlalu pagi, aku sempatkan menghisap satu batang rokok favoritku sembari melamun atau main hp, lalu aku bersiap bekerja, pergi ke kantor, duduk di depan laptop, mengerjakan sesuatu, makan siang, sholat, bercengkrama bersama rekan-rekan kerja yang selalu aku syukuri keberadaannya, lalu bekerja lagi.
Sorepun datang, dan seperti biasa aku pulang ke kos. Mungkin nanti akan membuat kopi lagi dan mencari makan ayam bumbu hitam favoritku, lalu entah membaca sesuatu atau menonton apa saja yang ada di yutub, lalu tertidur. Besok semuanya akan diulang kembali. Terkadang bosan memang, tapi bukankah ini yang aku inginkan ketika sekitar 7 tahun lalu, aku membayangkan menjadi pekerja kantoran di korporat besar di Jakarta. Setidaknya aku harus mensyukuri ini.
Kadang aku bertanya-tanya, entah bagaimana aku bisa terjebak di keramaian Jakarta dan hidup dalam rutinitas yang sama. Bangun, bekerja, makan, pulang, ngopi, tidur. Kemudian bangun lagi dan mengulang semuanya. Hari-hari berjalan seperti halaman buku yang dibalik terlalu cepat, sampai suatu pagi aku tiba-tiba aku tersadar bahwa ternyata sudah 27 tahun hidup yang kulewati. Seperti kutipan Pak Sapardi, kita tuh abadi, yang fana itu waktu, karna waktu terus berjalan begitu cepat tanpa ada seorangpun yang bisa menghentikannya
Malam ini, sepulang kantor, aku menghubungi temanku yang bekerja di daerah Fatmawati. Gugun namanya. Kami memutuskan untuk pergi ke Blok M, hanya unuk sekadar menghabiskan dan merayakan malam diumurku yang menginjak 27 tahun ini. Gugun memang cukup sering bepergian denganku sepulang bekerja. Kadang kami hanya mencari tempat untuk makan, ngopi, kadang berjalan tanpa tujuan yang gak terlalu jelas. Mungkin memang begitu bentuk persahabatan kami. Tidak terlalu banyak perencanaan, tidak terlalu banyak pertanyaan. Hanya dua orang yang sama-sama ingin sedikit menghindari pulang terlalu cepat karna macetnya jalanan
Kamis malam itu Blok M terasa sangat ramai. Orang-orang datang dan pergi, suara kendaraan bercampur dengan percakapan dari meja-meja makan, anak-anak muda kalcer bercengkrama, beberapa orang sibuk dengan ponselnya, dan semuanya seperti sedang punya alasan untuk berada di sana. Tapi entah mengapa malam ini kenapa aku tidak merasa seramai itu.
Aku bersama Gugun, berjalan di antara kerumunan sambil sesekali mengobrol. Kemudian aku mengatakan kepadanya sesuatu yang sebenarnya sudah beberapa kali kupikirkan belakangan ini.
“entah sampai kapan kita seperti ini ya, diumur yang udah segini”
Aku tidak benar-benar tahu apa yang kumaksud dengan “seperti ini”. Mungkin tentang pekerjaan. Mungkin tentang hidup yang rasanya tidak ke mana-mana. Mungkin tentang bagaimana kami masih sering menghabiskan malam dengan cara yang sama seperti beberapa tahun lalu, hanya tempatnya yang berubah dan harga makanannya yang semakin mahal.
Atau mungkin aku sebenarnya sedang bertanya kepada diriku sendiri. Entah sampai kapan aku akan seperti ini.
Aku tahu bahwa kita tidak seharusnya terlalu sering melihat kanan dan kiri. Orang-orang selalu bilang setiap orang punya waktu dan jalannya masing-masing. Kalimat itu benar, mungkin. Aku juga berkali-kali mengatakannya kepada diriku sendiri setiap kali merasa tidak mampu mengejar kehidupan orang lain. Tetapi ada waktu-waktu tertentu ketika aku tetap melihat ke kanan dan kiri. Dan pada saat-saat seperti itu, rasanya semua orang sudah berjalan begitu jauh di depanku.
Ada yang sudah memiliki rumah. Ada yang menikah. Ada yang pindah ke pekerjaan yang lebih baik. Ada yang membangun bisnis sendiri. Ada yang sepertinya tahu apa yang ingin mereka lakukan dengan hidupnya, lalu benar-benar melakukannya. Ada juga orang-orang yang mungkin usianya bahkan lebih muda dariku, tetapi sudah berada di tempat yang selama ini diam-diam kuinginkan.
Sementara aku masih di sini, dunia berputar begitu cepat, sementara aku merasa diam di tempat
Awalnya kupikir perasaan itu hanya akan datang sesekali. Mungkin hanya angin lalu saja, lalu akan hilang entah kemana. Tetapi ternyata tidak. Dan semakin aku memikirkannya, semakin sulit untuk tidak bertanya, apasih sebenernya yang aku cari dalam hidup ini?
Dan aku teringat sekitar 5 tahun yang lalu, aku tersadar tentang satu hal. Setelah mencoba banyak hal dan berkali-kali merasa bingung dengan arah hidup, aku akhirnya menemukan satu tujuan yang rasanya cukup sederhana untuk kupegang.
Aku ingin hidupku bermanfaat bagi banyak orang.
Entah kenapa kesadaran itu datang begitu saja, tetapi sejak saat itu aku mulai merasa bahwa sebenarnya aku tidak ingin mati sebagai seseorang yang tidak berguna. Aku tidak harus menjadi orang terkenal. Aku tidak harus menjadi orang paling kaya. Aku juga tidak harus memiliki pencapaian yang membuat namaku dikenal banyak orang.
Aku hanya ingin, ketika suatu hari nanti aku sudah tidak ada, setidaknya pernah ada beberapa orang yang terus mengingatku sebagai orang yang baik.
Seseorang yang pernah membantu mereka. Seseorang yang pernah membuat hidup mereka sedikit lebih ringan. Seseorang yang pernah memberikan sesuatu, meskipun mungkin kecil, yang kemudian mereka bawa dalam hidup mereka.
Mungkin terdengar sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana untuk disebut sebagai tujuan hidup. Tetapi semakin dewasa aku justru semakin merasa bahwa menjadi berguna mungkin jauh lebih penting daripada sekadar terlihat berhasil. Karena pada akhirnya toh aku akan mati juga.
Dan sebenarnya aku juga punya bayangan yang berbeda tentang kehidupan yang bahagia. Sederhana sekali, sebenarnya.
Aku membayangkan sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil. Di dalamnya ada ruang makan dengan meja kayu dan furniture minimalist, dengan taman di halaman belakang yang rimbun dan juga kolam ikan koi yang bergemercik, lalu ada pintu kaca besar yang menghadap ke halaman belakang.
Pagi hari terasa tenang nan syahdu, aku akan membuat kopi, membuka laptop dan mengerjakan sesuatu. Lalu bermain bercengkrama dengan anak dan istri, mungkin setelah itu aku akan membaca beberapa halaman buku. Mungkin pergi berjalan kaki ataupun bersepeda, Sore harinya berbicara tentang hal-hal kecil yang terjadi hari itu.
Aku juga membayangkan memiliki sepetak sawah. Tidak perlu luas, mungkin hanya cukup untuk membuat pagi terasa berbeda. Sesekali aku berjalan di sana ketika matahari belum terlalu tinggi, melihat embun yang masih tertinggal di dedaunan, atau sekadar duduk di pinggir sawah sambil memperhatikan para pekerja yang sedang memanen. Mungkin tidak ada yang benar-benar istimewa dari pemandangan itu, tetapi entah kenapa aku selalu merasa ada sesuatu yang menenangkan dari melihat orang bekerja di antara hamparan hijau dan tanah yang luas.
Aku juga ingin sesekali berkebun. Menanam sesuatu dengan tanganku sendiri, lalu melihatnya tumbuh perlahan. Mungkin cabai, tomat, atau entah apa saja yang bisa tumbuh di halaman rumah. Rasanya menyenangkan membayangkan hidup yang berjalan sedikit lebih lambat, di mana aku tidak harus selalu terburu-buru mengejar sesuatu.
Bagi sebagian orang mungkin kehidupan seperti itu terdengar biasa saja. Tidak ada gedung tinggi, tidak ada jabatan keren, tidak ada pencapaian yang bisa dipajang di LinkedIn. Tetapi entah kenapa, setiap kali membayangkannya, aku merasa lebih dekat dengan diriku sendiri. Aku hanya ingin hidup dengan tenang dan merasa bahwa hidupku memiliki arti. Aku hanya ingin menjadi sesuatu yang memang aku.
Masalahnya, meskipun aku punya gambaran yang cukup jelas tentang kehidupan yang kuinginkan, aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara untuk memulainya. Semoga untuk kehidupanku kedepan, keputusan-keputusan yang kubuat adalah keputusan yang tepat dalam hidup, entah keputusan kecil ataupun besar tapi terus berdampak dalam hidup.
Ada begitu banyak hal yang tidak kuketahui pada umur 27 tahun ini. Aku tak tau akan berapa lama lagi waktu aku tinggal di bumi ini, aku tidak tau apakah pekerjaan yang sekarang akan menjadi bagian besar dari hidupku atau hanya sebuah tempat singgah yang akan kulupakan nanti. Aku takut pada kemungkinan bahwa suatu hari nanti aku akan melihat ke belakang dan menyadari bahwa seluruh hidupku hanya dihabiskan untuk mengejar hal-hal yang sebenarnya tidak pernah kuinginkan.
Aku masih ingin pergi ke tempat-tempat yang belum pernah kudatangi. Masih ingin jatuh cinta dan dicintai, ingin menikah dan mempunyai keluarga yang bahagia. Masih ingin punya rumah yang nyaman, masih ingin menulis jurnal, masih ingin duduk di suatu pagi yang tenang, membuat kopi, dan bercengkrama dengan anak dan istri.
Untuk sekarang, aku hanya berharap apa pun yang terjadi setelah ini, aku bisa tetap baik-baik saja. Aku ingin terus mengoleksi hal-hal baik selama masih punya waktu. Percakapan yang menyenangkan, perjalanan yang tidak direncanakan, orang-orang yang datang dan memilih tinggal, buku-buku yang selesai kubaca, cerita-cerita yang akhirnya selesai kutulis, dan pagi-pagi sederhana yang mungkin suatu hari nanti akan kurindukan.
Terimakasih sudah membaca, dan semoga hal hal baik selalu menyertai kita
#barokahalways


